Minggu, 08 Juni 2014

SEMESTER IV (LAPORAN BACAAN - BUKU THEORIES OF LEARNING TEORI-TEORI PEMBELAJARAN)

LAPORAN BACAAN

BUKU
THEORIES OF LEARNING
TEORI-TEORI PEMBELAJARAN
Konsepsi, Komparasi Dan Signifikansi
By : Winfred F. Hill

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Kelulusan Mata Kuliah
TEORI BELAJAR - PAK
Yang Dibina Oleh :
Sondiana Siagian, S.Pd.K


Nama : Roy Damanik

BAB 1
BAGAIMANA PARA PSIKOLOG MENGKAJI MASALAH PEMBELAJARAN 
Dalam psikologi, apa yang dipelajari tidak harus “benar”, tidak harus dengan sadar atau sengaja dan tidak harus melibatkan tindakan lahiriah. Mengapa orang tertarik untuk lebih memahami tentang pembelajaran? Banyak alasan yang membuat orang ingin mengetahui lebih jauh lagi mengenai pembelajaran.
Pembelajaran di Sekolah. Tempat dimana pembelajaran menjadi fokus utama yaitu di sekolah. Anak-anak di sekolah menghadapi situasi yang amat kompleks. Situasi pembelajaran itu kompleks dari sudut pandang mereka, jauh lebih kompleks lagi dari sudut pandang para psikolog yang dengan gigih berusaha untuk menganalisisnya. Anak-anak mendapatkan pengaruh dari beranekaragam aspek yang ada di situasi kelas. Mereka belajar banyak hal dari para guru, termasuk hal-hal yang tidak dirumuskan dalam kurikulum dan hal-hal yang tidak disadari oleh guru dan murid itu sendiri. Mereka juga belajar dari buku-buku, dari sesama teman, dan dari tatanan fisik sekolah mereka.
Pembelajaran di Laboratorium. Pada pembelajaran di laboratorium bisa dilakukan manipulasi variabel tertentu, mempertahankan konstanta dan mengukur secara teliti perubahan perilaku yang diakibatkannya. Kita akan melihat bahwa banyak keterkaitan antara situasi pembelajaran yang kompleks dan situasi pembelajaran di laboratorium yang lebih terkontrol dengan baik.
Hubungan antara pembelajaran di kelas dengan pembelajaran di laboratorium yaitu meskipun subjek, tugas dan penguat yang digunakan di laboratorium dan di ruang kelas sama, perbedaan antara bekerja sendirian dalam situasi yang tidak familiar (laboratorium) dan bekerja bersama dalam situasi kelompok yang familiar (ruang kelas) bisa menghasilkan banyak perbedaan perilaku. Sekalipun demikian, studi-studi laboratorium di samping menghasilkan pengetahuan dasar mengenai proses pembelajaran juga menyediakan banyak kemungkinan untuk diterapkan di ruang kelas dan situasi lainnya.

BAB 2
HAKIKAT TEORI-TEORI PEMBELAJARAN
Variabel Dan Hukum. Ada dua jenis variabel, yakni Variabel Dependen (hal yang hendak kita buat prediksinya) dan Variabel Independen (hal yang kita gunakan untuk membuat prediksi). Variabel Independen bisa dimanipulasi dan juga ada yang tidak bisa dimanipulasi. Dalam ilmu tertentu misalnya ilmu fisika Variabel Independen bisa dimanipulasi. Namun dalam beberapa kasus tidak bisa, misalnya peneliti tidak bisa mengubah IQ yang merupakan variabel independen, untuk memperbaiki tingkat pembelajaran yang merupakan variabel dependen. Hukum ilmiah terkadang tidak dapat diprediksi dengan tepat. Ada kalanya benar, ada kalanya kurang tepat. Namun dalam semua kasus hukum ilmiah, Variabel Dependen dan Variabel Independen memiliki hubungan. Dan hal tersebut menjadi fokus pokok Ilmu Pengetahuan..
Abstraksi adalah deskripsi dari suatu masalah pada level generalisasi tertentu, sehingga memungkinkan kita untuk berkonsentrasi pada aspek kunci dari masalah tersebut tanpa memperhatikan hal-hal detail. Proses abstraksi ini dijalankan lebih jauh lagi dalam hukum-hukum ilmiah daripada dalam statemen-statemen jenis lainnya.
Nilai Hukum Ilmiah. Hukum ilmiah memiliki dua tujuan pokok. Yakni, bersifat praktis (menyediakan sarana untuk memprediksi dan mengontrol kejadian-kejadian), misalnya : biro cuaca dan penasehat investasi. Dan yang tidak terlalu praktis (mendapatkan pengetahuan untuk menjawab rasa ingin tahu). Kedua tujuan ilmu ini terkandung dalam studi psikologi pembelajaran.
Apa itu teori-teori pembelajaran? Teori merupakan interpretasi sistematis atas sebuah bidang pengetahuan. Dalam psikologi pembelajaran, barangkali lebih baik digunakan istilah sistem atau interpretasi sistematis daripada istlah teori, karena terkadang tori digunakan dalam pengertian yang lebih sempit.
Tiga Fungsi Teori, ada 3 fungsi teori, antara lain : pendekatan terhadap suatu bidang pengetahuan, menganalisis dan meneliti pembelajaran; berupaya untuk meringkas sekumpulan besar pengetahuan mengenai hukum pembelajaran kedalam ruang yang cukup kecil; berupaya menjelaskan apa itu pembelajaran.

BAB 3
TIGA TEORITISI KONEKSIONISME YANG PERTAMA
Pengkondisian Pavlov. Dalam penelitiannya yang menjalankan operasi yang cukup rumit, membuka lambung seekor anjing melalui dinding perutnya, ia mengamati bahwa munculnya kelenjar sekresi dalam perut pertama-tama dipicu bukan karena adanya makanan yang mamasuki perut melainkan karena ajning tersebut mengunyah atau melihat makanan, dan disini ia mencatat bagaimana sekresi antisipatoris ini menunjukkan aspek paling menarik dari proses pencernaan. Istilah stimulus tidak berkondisi (unconditioned stimulus) dan stimulus berkondisi (conditioned stimulus) munkin terdengar agak jangkal bila kita mengingat pengertian yang dikandungnya.
Eksitasi dan Inhibisi. Eksitasi (eksitation) adalah proses pembangkitan, proses yang cenderung membuat respon terjadi, sementara inhibisi (inhibition) adalah proses penekanan, yang cenderung mencegah terjadinya respon. Mari kita dalami satu contoh pengkondisian dimana sebuah lonceng sebagai stimulus berkondisi diberikan kepada anjing sesaat sebelum tepung daging diberikan sebagai stimulus tidak berkondisi. Kedua stimulus ini menhasilkan eksitasi di lapisan luar (cortex) otak, masing-masing dititik tertentu dalam korteks yang sesuai dengan stimulus tersebut. Karena makanan penting bagi kelangsungan hidup anjing, sementara lonceng secara bilologis merupakan stimulus yang tidak begitu penting, eksitasi yang dihasilkan oleh makanan lebih kuat daripada yang dihasilkan lonceng. Sebagai akibatnya lonceng yang mirip memiliki kecenderungan terbesar untuk menghasilkan efek yang sama dengan yang diakibatkan oleh stimulus berkondisi (berupa respon berkondisi).
Pembelajaran dalam Interpretasi Watson. Kita terlahir dengan koneksi-koneksi stimulus respon yang disebut sebagai refleks. Contohnya antara lain bersin sebagai respon sebagai gangguan di hidung dan refleks tendangan lutut sebagai respon terhadap tepukan keras dilutut kita. Refleks-refleks inilah yang menurut Watson merupakan perbendaharaan perilaku yang kita warisi. Sesungguhnya demikian, kita bisa membangun sebagai koneksi stimulus respon yang baru melalui respon pengkondisian. Jika sebuah stimulus baru terjadi berbarengan dengan stimulus bagi respon refleks, setelah beberapa kali berpasangan (pairing) seperti itu maka stimulus yang baru itu sendiri saja akan menghasilkan respon. Hal ini yang menurut Watson merupakan cara kita belajar merespon situasi-situasi baru.
Koneksionisme awal Thorndike. Istilah satisfier dan annoyer mungkin terdengar amat subjektif untuk suatu teori yang berfokus pada proses penempaan hubungan stimulus respon yang bersifat mekanis. Istilah tersebut jauh lebih mirip dengan bahasa para filosof  hedonistik dibandiungkan istilah para psikolog behavioristik. Thorndike memang dikritik oleh kaum behavioristik karena cara penyampaiannya menenai pembelajaran seperti ini.

BAB 4
TEORI PEMBELAJARAN MENURUT GUTHRIE
Guthrie adalah pengajar di Universitas Washington. Ia tidak pernah belajar kepada Watson, dan pendidikan pascasarjananya pun di bidang filsafat dan bukan psikologi. Meski begitu, interpretasinya mengenai pembelajaran akan terlihat mirip sekali dengan interpretasi Watson seandainya saja ia memiliki kesempatan satu dasawarsa lagi untuk mengerjakan topik tersebut. Azas belajar guthrie yang utama adalah hukum kontinguity. Yaitu gabungan stimulus-stimulus yang disertai suatu gerakan, pada waktu timbul kembali cenderung akan diikuti oleh gerakan yang sama. Guthrie juga menggunakan variabel hubungan stimulus respon untuk menjelaskan terjadinya proses belajar. Belajar terjadi karena gerakan terakhir yang dilakukan mengubah situasi stimulus sedangkan tidak ada respon lain yang dapat terjadi. Penguatan hanya sekedar melindungi hasil belajar yang baru agar tidak hilang dengan jalan mencegah perolehan respon yang baru. Teori guthrie ini mengatakan bahwa hubungan stimulus dan respon bersifat sementara, oleh karenanya dalam kegiatan belajar, peserta didik perlu sesering mungkin diberi stimulus agar hubungan stimulus dan respon bersifat lebih kuat dan menetap. Guthrie juga percaya bahwa hukuman memegang peranan penting dalam proses belajar. Hukuman yang diberikan pada saat yang tepat akan mampu mengubah tingkah laku seseorang.
            Guthrie juga mengemukakan empat unsur yang dapat ditarik dari perkataan, apakah kita memiliki hasrat, tujuan, atau maksud untuk melakukan sesuatu, antara lain : 1). Kompleksitas stimuli pemelihara yang membuat organisme tetap aktif; 2). Sesuatu yang mencegah dilakukannya sesuatu secara serta-merta yang akan menghilangkan stimuli pemelihara saat itu juga; 3). Kesiapan otot untuk membuat respon tertentu; 4). Kesiapan otot untuk menghadapi konsekuensinya. Bayangkan misalnya seseorang berada di gedung bertingkat yang sedang terbakar. Ia berniat melompat untuk selamat. Dalam kasus ini, keempat komponennya adalah : 1). Panas yang berasal dari api, sensasi menyesakkan dari asap, dan rasa takut; 2). Api dan ketinggian yang mencegah orang itu untuk tidak lari begitu saja; 3). Menegangnya otot-otot sebagai persiapan melompat; 4). Bersiapnya tubuh untuk menghadapi guncangan bila jatuh.

BAB 5
PEMBENTUKAN TEORI FORMAL MENURUT HULL
Di antara semua teori pembelajaran koneksionis, yang paling ambisius adalah teori yang disusun Clark L. Hull (1884-1952).  Teori Hull merupakan rekaan yang bersifat logis.  Ketika sebuah teori terbukti, teoremanya juga pasti benar.  Perlu dibuat perbandingan  antara teorema dengan hukum actual mengenai perilaku yang ditunjukan oleh eksperimen.  Bagi seorang yang tidak terbiasa dengan filsafat ilmu, pendekatan ini mungkin terlihat janggal.  Para teoritis bertolak dari postulat-postulat yang mungkin benar atau tidak. Mereka kemudian membuktikan secara logis.  Meskipun pendekatan teoritis ini mungkin kedengaran rumit dan anieh, hal ini sebenarnya sejalan dengan apa yang kita lakukan dalam berbagai situasi sehari-hari.
Secara umum dapat disimpulkan bahwa, teori-teori yang diungkapkan oleh Hull dan pendahulunya hanya bersifat teoritis ilmiah yang menjadi acuan dalam proses pembelajaran serta pemecahan masalah guna mempermudah proses belajar dan mengajar. Hal ini disebabkan proses pembelajaran disuatu wilayah atau komunitas tertentu sangat erat kaitannya dengan kehidupan sosial dan psikologi objeknya. Buktinya, dalam menganalisis permasalahan yang terjadi dalam proses pembelajaran tetap menyesuaikan pada situasi dan kondisi objek yang bersangkutan. Misalnya, seperti yang digambarkan dalam buku Theories of Learning yakni seorang siswa yang sulit untuk menjawab atau mengerjakan soal di depan kelas mempunyai alasan yang beragam, baik yang bersifat akademik ataupun psikis (rasa takut salah, rasa malu, dsb).

BAB 6
TEORI PEMBELAJARAN MENURUT SKINNER
Skinner mengemukakan ada dua jenis pembelajaran. Kedua jenis pembelajaran ini berbeda karena masing-masing mencakup jenis perilaku tersendiri. Yaitu perilaku responden dan perilaku operan. Apabila perilaku responden dicirikan oleh kemunculannya sebagai respon atas stimuli, perilaku operan dicirikan oleh operasinya terhadap lingkungan untuk menjaga berlangsungnya konsekuensi tertentu. Sebagian besar perilaku tergolong dalam jenis ini : berjalan, berbicara, bekerja, dan bermain semuanya terbentuk. Perilaku operan bertolak belakang dengan perilaku responden menarik tangan ketika menyentuh kompor panas, yang dihasilkan nyaris tanpa memandang kondisi-kondisi lainnya.
Walau Skinner berfokus pada penguat positif (positive reinforcers), ia juga mengakui keberadaan penguat negatif (negative reinforcers). Penguat negative berwujud stimuli penghindaran. Hilangnya penguat negative akan meningkatkan kemungkinan respon sebelumnya, sama halnya seperti adanya penguat positif. Satu hal terpenting mengenai penguat, yang positif maupun yang negatif, bahwa keduanya bisa dikondisikan. Penguatan negative berasal dari hilangnya suatu penguat negative, sementara hukuman mengadakan suatu penguat negative. Secara umum Skinner memandang hukuman sebagai metode yang buruk untuk mengontrol perilaku. Salah satu penyebabnya adalah karena kemungkinan menjadi bumerang tersebut, yang menghasilkan efek bertolak belakang dengan yang diinginkan. Meskipun demikian Skinner tidak mengklaim hukuman tidak bernilai sebagai alat mengubah perilaku.
Peran Stimuli. Stimuli bisa menentukan apakah operan tertentu akan terjadi atau tidak. Individu telah belajar mendiskriminasi antara stimuli, stimuli itu disebut stimuli diskriminatif. Stimulus diskriminatif positif adalah stimulus yang menunjukkan bahwa merespon akan dikuatkan; stimulus deskriminatif negative menunjukkan bahwa merespon tidak akan dikuatkan. Dalam hal ini teori pembelajaran menurut Skinner cukup berbeda dengan teori-teori pembelajaran pada umumnya. Karena Skinner adalah tipe orang yang tidak suka memakai teori orang lain. Skinner menghilangkan sistem hukuman dengan alasan yang cukup kuat karena terkadang seorang siswa yang diberi hukuman bukan menyadari kesalahannya malah berbalik marah terhadap gurunya yang memberikan hukuman.

BAB 7
APLIKASI DAN IMPLIKASI TEORI SKINNER 
Skiner mencoba menerapkan sistem atau metode ‘Modifikasi Perilaku’ di dalam ilmu pendidikan sebagai suatu teknik psikoterapis, yang berguna untuk menangani masalah psikosis pada anak didik dan juga pada orang- orang yang mengalami masalah kejiwaan.  Metode ini dilakukan dengan cara pendekatan. Pendekatan ini pada dasarnya serupa dengan Guthrie namun di tambah dengan elemen penguatan; pendekatan ini menjadi  landasan bagi berbagai teknik modifikasi perilaku (behavior modification) dalam psikoterapi.
Pendekatan modifikasi perilaku bisa diilustrasikan dengan sebuah kasus di sebuah taman anak-anak disembuhkan dari  kebiasaan menangis yang berlebihan dengan pendekatan Skineria, memulai dengan mendiferensiasikan perilaku anak sebagai responden dan operan. Semua guru taman anak-anak dilatih untuk mengenali  dan mengabaikan tangisan operan. Sekalipun demikian, ketika anak-anak bermain secara konstruktif, guru-guru memuji mereka dan menujukan kasih sayang kepada mereka. Jadi yang semula anak-anak selalu menangis dengan tangisan operannya ketika diperhatikan oleh gurunya, kini tangisan operanpun menghilang. Teori yang diterapkan oleh Skinner ini sangat baik untuk dijadikan pegangan oleh calon pendidik untuk menghadapi para calon peserta didik. Dengan cara modifikasai perilaku atau cara pendekatan terhadap anak didik, kita dapat memahami karakteristik anak tersebut dan mencoba mengatasi  masalah psikis yang mungkin terjadi pada anak peserta didik.

BAB 8
TEORI GESTALT
Pendekatan fenomenologis menjadi salah satu pendekatan yang eksis di psikologi dan dengan pendekatan ini para tokoh Gestalt menunjukkan bahwa studi psikologi dapat mempelajari higher mental process yang selama ini dihindari karena abstrak, namun dapat mempertahankan aspek ilmiah dan empirisnya. Pandangan Gestalt menyempurnakan aliran behaviorisme dengan menyumbangkan ide untuk menggali proses belajar kognitif, berfokus pada higher mental process. Adanya perceptual field diinterpretasikan menjadi lapangan kognitif dimana proses-proses mental seperti persepsi, insight, dan problem solving beroperasi.
Ada beberapa hal yang patut dicatat sebagai implikasi dari aliran Gestalt. Beberapa prinsip belajar yang penting, antara lain : 1). Manusia bereaksi dengan lingkungannya secara keseluruhan, tidak hanya secara intelektual, juga secara fisik, emosional, sosial dsb; 2). Belajar adalah penyesuaian diri dengan lingkungan; 3). Manusia berkembang sebagai keseluruhan sejak kecil sampai dewasa; 4). Belajar adalah perkembangan kearah diferensiasi yang lebih luas; 5). Belajar hanya berhasil, apabila tercapai kematangan untuk memperoleh insight; 6). Tidak mungkin ada belajar tanpa ada kemauan untuk belajar; 7). Belajar akan berhasil kalau ada tujuan; 8). Belajar merupakan suatu proses bila seseorang itu aktif, bukan ibarat suatu bejana yang diisi; 9). Belajar sangat menguntungkan untuk kegiatan memecahkan masalah.

BAB 9
TEORI- TEORI KOGNITIF EROPA YANG LAIN
Teori Gestalt bermula di Eropa dan tumbuh sebagai perspektif dengan ciri khas Eropa. Kita membahas dua di antaranya, yang satu dengan penekanan dalam hal motivasi, yang lainnya dalam hal perkembangan.
System Kurt Lewin,Ia mempunyai minat yang berbeda dengan yang lainnya dalam beberapa hal. apabila yang lain fokus pada masalah teknis di seputar persepsi, pembelajaran dan pikiran, ia berfokus pada motivasi, kepribadian dan psikologi sosial. Untuk mengkaji hal ini ia tidak mengembangkan sebuah sistem berupa teori pembelajaran melainkan sistem deskripsi di mana pembelajaran, motivasi, kepribadian dan perilakusosial semuanya bisa dikaji.
Piaget dan perkembanbgan kognitf, Teoritisi kognitif yang telah kita bahas sampai disini menekankan penjelasan mengenai persepsi, motivasi, dan pemecahan masalah di mana semua itu beroperasi pada individu pada saat tertentu. Sungguhpun demikian, tradisi kognitif Eropa tidak mengabaikan perubahan semacam itu. Anak-anak menalar dan memecahkan masalah mereka dengan cara-cara yang seringkali berbeda dengan cara orang dewasa, dan proses perkembangan pemikiran anak-anak menjadi pemikiran orang dewasa pun telah diamati oleh sejumlah psikilog, baik eropa maupun bukan. Salah satu cara mengidentifikasi seorang teoritisi adalah dengan melihat variabel perantara yang ia postulasikan. Piaget menggunakan skema sebagai variable perantara favoritnya. Adapun versi paling gamblang dari kwalifikasi Piaget terdiri atas empat tahapan : sensori-motor; praoperasional; operasi konkret dan operasi formal. Masing-masing tahapan menunjukan adanya peningkatan atas peningkatan sebelumnya dalam hal kemampuan anak dalam memikir abstrak memprediksi dunia secara tepat, menjelaskan sebab-sebab terjadi sesuatu secara akurat, dan caranya menghadapi dunia secara intelektual.

BAB 10
TEORI-TEORI KOGNITIF DALAM TRADISI BEHAVIORISME
            Edward Chace Tolman (1886-1959) memiliki karya utama “Purposive Behaviour in Animals and Men”. Dari teori Tolman, sistem Tolman disebut behaviorisme purposif karena sistem ini mengkaji perilaku dalam kaitannya dengan tujuan yang hendak dicapai melalui perilaku tersebut. Perilaku yang hendak dikaji Tolman adalah perilaku molar. Istilah ini bukan merujuk pada jenis perilaku, namun pada cara kita menganalisis perilaku. Dalam teorinya, Tolman menggunakan Variabel Perantara. Perbedaan sistem ini dengan teori kognitif lain, ada pada penekanannya. Dalam teorinya, Tolman banyak meminjam ide bukan hanya dari Lewin saja. Namun, dari para psikolog gestalt, freid dan bahkan guthrie juga.
            Teori Kognitif Behavioristik Terbaru Dari Bolles, Robert C. Bolles berasal dari Universitas Washington, Bolles merumuskan teori kognitif sebagai cara untuk memprediksi perilaku, dengan memperhatikan tiga jenis peristiwa yang bisa dipelajari secara organisme. Yakni : 1). Stimulus yang berlaku sebagai sinyal “S”; 2). Respon “R”; 3). S*. Dari hubungan ketiga jenis peristiwa ini akan bisa terbentuk pengharapan. Dalam proses pembuktian teorinya, meskipun mengalami kesulitan, sistem Bolles nampak lebih ringkas dibandingkan persebaran vektor dan peta kognitif Tolman.

BAB 11
PERGESERAN DARI KONEKSIONISME KE KOGNITIVISME

            Selama paruh pertama abad-20, interpretasi pembelajaran koneksionis mendominasi psikologi Amerika, sementara para teoretisi kognitif tinggal sebagai pengkritik. Begitu banyak para teoritisi yang mencoba memberikan sanggahan terhadap teori koneksionisme. Dimulai dari O. Howart Mowrer, Dollard and Miller yang sepakat bahwa yang pertama sekali dipelajari adalah apa yang harus ditakuti dan kemudian belajar apa yang harus dilakukan untuk itu. Mowrer juga mengemukakan bahwa, hal penting mengenai stimuli bukanlah bahwa stimuli mendatangkan respon tertentu melainkan bahwa stimuli memiliki makna tertentu. Interpretasi baru ini membuat Mowrer lebih kognitif daripada teoritisi yang mengembangkan sistem mereka dalam tradisi koneksionisme.  
BAB 12
ANALISIS PEMBELAJARAN MATEMATIKA
Ketika teori-teori pembelajaran tumbuh semakin formal dan menghasilkan statemen-statemen kuantitatif yang lebih akurat mengenai perilaku, teori-teori tersebut cenderung menggunakan bahasa dan konsep-konsep yang berasal dari matematika, cabang-cabang teknologi, dan ilmu pasti.
Pada awal 1950-an, muncul beberapa model statistik, salah satunya oleh William K. Estes (1919). Sistem Estes merupakan sebuah model pembelajaran karena, setidaknya pada awalnya, sistem tersebut tidak diusahakan untuk menjadi teori yang komplet dan menyeluruh. Salah satu contoh, Estes mencatat apakah seorang pemain bola basket berhasil memasukkan bola ke keranjang atau tidak, tanpa memandang jumlah kontraksi otot yang tidak terhitung banyknya yang menghasilkan salah satu dari dua hal diatas.
Menurut Estes, situasi stimulus apapun terbentuk dari banyak elemen stimulus kecil. Estes membagi semua kemungkinan respon dalam situasi tertentu menjadi dua kelompok, dan ia membagi semua kemungkinan aspek situasi stimulus menjadi banyak elemen yang tiadk tertentukan. Dengan kata lain, masing-masing elemen stimulus cenderung untuk menghasilkan entah itu A1 atau A2 sekaligus. Dan bagi Estes perubahan semacam inilah yang dinamakan sebagai pembelajaran.
Untuk memahami proses pengkondisian Estes, kita perlu memperhatikan proses pengambilan sampel stimulus. Estes berasumsi bahwa hanya sejumlah kecil elemen dalam stimulus tertentu yang benar-benar mempengaruhi respon pada suatu percobaan. Prediksi-prediksi dari teori Estes tidak kalah akuratnya dengan teori-teori lain. Ia mengemas segenap teorinya dalam ungkapan probabilitas : probabilitas mengenai bagaimana suatu elemen akan dijadikan sampel dan probabilitas mengenai bagaimana suatu respon akan terjadi. Dalam rumusan awal, Estes berasumsi bahwa pembelajaran berlangsung melalui prinsip kontiguitas. Kapan saja terjadi respon, semua elemen stimulus menjadi terkondisikan dengan respon itu.
Estes memandang teori sampling stimulus sebagai perluasan matematis dari teori transfer elemen identik Thorndike. Yakni, teori itu dikembangkan untuk membuat prediksi yang tepat tentang transfer training dari satu situasi ke-situasi yang lain, berdasarkan elemen-elemen stimulus yang sama untuk keduanya. Dalam sampling stimulus, belajar terjadi dengan cara sekaligus atau tidak sama sekali dan hanya dibutuhkan kontiguitas antara stimulus dan respons tertentu.

BAB 13
KOGNISI DAN KOMPUTER
Model-model koneksionis mendominasi sebagian besar sejarah teori pembelajaran Amerika, dan hanya baru-baru ini saja model-model kognitif mulai disukai oleh banyak psikolog. Pada umumnya orang berpandangan bahwa perilaku diri mereka dan sebagian orang lain terkait dengan pengetahuan, keyakinan, dan gagasan. Sungguhpun demikian, yang jauh lebih berpegangan dalam hal ini adalah sebuah perkembangan lain yang membuat aktivitas kognitif bukan hanya menjadi bagian dari dunia ilmiah melainkan juga bagian dari dunia teknologi. Perkembangan ini adalah maraknya penggunaan komputer dalam ilmu pengetahuan, bisnis, dan kemudian dalam segala segi kehidupan masyarakat.
Seiring perkembangan teknologi, teori kognisi ini juga dikorelasikan dengan kecerdasan yang ada pada teknologi mutahir, khususnya komputer. Komputer digunakan untuk menganalisis data, untuk memunculkan stimuli bagi subjek-subjek eksperimen, menyampaikan program-program pengajaran, dan menjalankan berbagai tugas lainnya. Komputer melaksanakan berbagai proses yang mirip sekali dengan proses belajar manusia, mengingat dan berpikir.

BAB 14
KONEKSIONISME MODEL BARU
Pada tahun 1980-an mulia muncul keraguan tentang komputer. Salah satunya adalah penemuan yang menunjukkan bahwa para ahli di kalangan manusia ternyata menyelesaikan persoalan bukan hanya dengan mengikuti ketentuan. Yang kedua berasal dari pemikiran tentang sistem saraf. Dan yang ketiga yang mendorong pergeseran pandangan para teoritisi berasal dari komputer itu sendiri. Hingga pada akhirnya muncul sebuah model baru yakni, NETtalk. NETtalk merupakan suatu sistem yang dikembangkan oleh Terrence Sejnowski dan Charles Rosenberg (1987) yang melakukan konversi teks bahasa Inggris menjadi suara bicara manusia. Pembuatan NETtalk dimaksudkan untuk membangun model sederhana yang dapat menjelaskan kompleksitas tugas dari tingkat kognisi manusia. Sistem ini bisa belajar membaca dengan bunyi keras. Stimulinya berupa rangkaian huruf tercetak, yang tersusun 26 abjad ditambah spasi. Responnya berupa bunyi yang menyerupai penuturan, terbentuk dari 55 fonem (bunyi ucapan) yang ada pada Abjad Fonetik Internasional. Pembuatan NETTalk dimaksudkan untuk membangun model sederhana yang dapat menjelaskan kompleksitas tugas dari tingkat kognisi manusia.
BAB 15
PERIHAL MOTIVASI

Dewasa ini ada tiga tren interpretasi mengenai penguatan, dua diantaranya bertolak dari kerangka reduksi-dorongan dan yang satunya tidak. Dalam reduksi-dorongan, orang berfokus pada dorongan apa yang bersifat bawaan. Salah satu dorongan yang banyak diperhatikan orang adalah dorongan yang dipuaskan melalui pengalaman baru. Dorongan ini dikenal dengan berbagai nama seperti dorongan ingin tahu, dorongan eksplorasi, dorongan manipulasi atau dorongan mencari hal baru. Dorongan jenis kedua dipuaskan melalui aktivitas. Sedangkan dorongan jenis ketiga disebut sebagai kenyamanan kontak. Kenyamanan kontak adalah dorongan yang dipuaskan melalui kontak tertentu secara fisik.
Trend kedua berupa modifikasi atas teori dorongan. Teori ini disebut gairah optimal. Teori gairah optimal berpandangan bahwa penguatan tidak harus berupa reduksi dorongan melainkan berupa perubahan dorongan ke arah level optimal tertentu. Teori gairah optimal memungkinkan kita untuk memahami fakta yang sering kita lihat dimana orang-orang terkadang mengusahakan stimulasi lebih banyak lagi alih-alih lebih sedikit. Teori gairah optimal mempertahankan gagasan mengenai level gairah yang terkait dengan penguatan, namun memperluas interpretasinya mengenai seperti apa hubungan gairah itu dengan penguatan.
Trend ketiga dalam teori penguatan, diluar kerangka reduksi-dorongan, mengaitkan penguatan dengan respon subjek sendiri ke arah satu tujuan. Penguatan bukan tergantung pada apa yang terjadi pada individu, melainkan pada apa yang dilakukan oleh orang tersebut.

BAB 16
INTERPRETASI MENGENAI MEMOR 
Underwood mengemukakan sebuah pertanyaan, mengapa kita lupa? Bila sesuatu telah kita ingat, mengapa hal itu tidak kita ingat untuk selamanya? Dari berbagai penjelasan yang ada, yang paling berpengaruh adalah interpretasi penimpaan atau interferensi, bahwa kita lupa karena penjagaan atau retensi kita atas item tertentu ditimpa oleh item lain yang kita pelajari yang serupa dengan item tertentu tersebut.
Dalam pandangan koneksionis sendiri, apa yang diingan atau dilupakan adalah respon, dan sebab utama mengapa respon-respon tertentu dilupakan adalah karena adanya kompetisi dari respon lain terhadap stimuli yang sama.

BAB 17
EVOLUSI DAN PEMBELAJARAN 
Para ahli biologi dan antropolog fisik amat tertarik dengan perubahan-perubahan evolusioner, namun sebagian besar psikolog kurang tertarik dengan masalah ini. meski para teoritisi pembelajaran telah melakukan penelitian terhadap satu ragam spesies tertentu, mereka jarang berfokus pada perbedaan di antara spesies, perbedaan yang merupakan produk evolusi. Mereka lebih tertarik dengan kemiripan yang ada di antara spesies, sementara perbedaan yang ada diabaikan karena dianggap sebagai hal yang rumit dan tidak relevan.

BAB 18
TEORI PEMBELAJARAN :
MASA LALU, MASA KINI, DAN MASA MENDATANG
Setiap teori-teori pembelajaran pasti memiliki persoalan dan perbedaan yang membedakan dengan teori yang lainnya, selain itu juga memiliki perubahan dari masa ke masa menuju keperbaikan. Persoalan yang mendasar antara lain persoalan mengenai hakikat pembelajaran dan proses pembentukan teori (Hilner 1978). Delapan persoalan yang kontrofersial antara lain : variabel perantara yang digunakan, hal-hal tertentu yang berperan sebagai variable perantara dalam teori bersifat kognitif atau koneksionisme, penguatan yang digunakan dalam teori merupakan hakikat dasar dan inti dalam pembelajaran, suatu pembelajaran yang harus dianalisis pada level molar atau pada level molecular, persoalan selanjutnya yaitu apakah teori tersebut disajikan secara formal atau informal, luas cakupan teori tersebut, penekanan diberikan pada pengaruh aspek bawaan terhadap perilaku dan pada pengaruh batasan-batasan biologis terhadap pembelajaran, dan persoalan yang terakhir yaitu mengenai kepraktisan teori tersebut. Persoalan-persoalan teori tersebut diperdebatkan oleh para teoritis yaitu seperti Tolman, Hull, Skinner, Thorndike, Watson, Guthrie, Estes dan Miller. Mereka memperdebatkan masalah-masalah tersebut sesuai dengan teori-teori yang mereka kemukakan.
Jenis teori ideal yang diperjuangkan oleh para teoritis yang paling ambisius adalah yang mirip dengan cita-cita yang digagas oleh Hull namun gagal diwujudkan yaitu: format, akurat, konsisten secara internal, sekaligus juga cukup luas cakupannya sehingga meliputi seluruh topik mengenai pembelajaran dan motivasi. Teori tersebut memiliki berbagai postulat dan teorema dan terkonstruksi sedemikian rupa sehingga bisa diubah untuk menangani bukti baru ketika teorema tertentu gagal dikukuhkan oleh eksperimen. Teori tersebut juga harus berguna dalam menyelesaikan persoalan-persoalan praktis. Teori-teori ideal mengandung variabel-variabel perantara yang dinyatakan secara eksplisit. Variabel-variabelnya jauh lebih kognitif dibandingkan pada teori-teori terdahulu, namun teori tersebut juga terkait dengan topik perkembangan yang menjelaskan bagaimana manusia berfungsi seperti apa yan dilakukan.
Ada dua aspek pembelajaran yang perlu diperhatikan dalam teori ini, yang pertama adalah hakikat memori. Pembelajaran yang berfokus pada pengetahuan dan pembelajaran melalui pengamatan, nampaknya lebih konsisten bila membahas memori sebagai pengulang kembali informasi simpanan dari berabagai respon-respon. Di sisi lain digunakan untuk keahlian yang amat praktis, termasuk keahlian verbal, teori interferensi. Selain itu teori yang komplit menggunakan cara asimilasi pengalaman baru kedalam skemata.
Aspek yeng kedua yaitu persepsi. Kebanyakan teoritis pembelajaran memandang persepsi sebagai hal yang tidak perlu dipersoalkan. Sementara itu kalangan Gestalt yang berfokus pada persepsi tergolong kelompok teoritis pembelajaran yang sekunder. Pembelajaran tidak bisa berlangsung melebihi input perceptual yang mendasarinya, sehingga persepsi tidak bisa diabaikan oleh semua teori yang dianggap komplit. Istilah register sensori yang dikemukakan Atkinson dan Shiffri adalah salah satu contoh konsep persepsi dalam teori pembelajaran.
Sebenarnya tidak ada teori yang sempurna. Semuanya memiliki kelebihan dan juga kekurangan. Tetapi kita harus bisa mempergunakan teori yang ada dengan sebaik-baiknya. Pada umumnya teori-teori pembelajaran memiliki dua arti penting yang pokok. Pertama, teori pembelajaran menyediakan kosa kata dan kerangka konseptual yang bisa kita gunakan untuk menginterpretasi contoh-contoh pembelajaran yang kita amati. Hal ini penting artinya bagi siapa saja yang hendak mengamati dunia secara seksama. Kedua, masih terkait dengan yang pertama, teori pembelajaran menuntun kita kemana harus mencari solusi atas persoalan-persoalan praktis. Teori memang tidak memberikan kita solusi, namun teori mengarahkan perhatian kita kepada variable-variabel yang bermanfaat untuk menemukan solusi.
Masing-masing teori menekankan aspek tertentu dalam proses pembelajaran yang perlu kita pertimbangkan. Semuanya memiliki fungsi memperkaya kita terhadap situasi-situasi pembelajaran yang kita amati dan membantu kita menemukan solusi atas problema pembelajaran praktis yang kita hadapi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar