Senin, 22 Februari 2016

SEMESTER VI (TUGAS MAKALAH FILSAFAT PRAGMATISME)

TUGAS MAKALAH
FILSAFAT PRAGMATISME



KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur kita ucapkan kepada Tuhan Yesus Kristus, karena atas kemurahan-Nya tugas makalah ini dapat penulis selesaikan dengan tepat waktu. Tugas ini penulis serahkan kepada pembina mata kuliah Filsafat Umum, Bapak Dr. Martomo Wahyudianto, MACE., M.Th, sebagai salah satu syarat kelulusan mata kuliah tersebut. Tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada bapak dosen yang telah berjasa mencurahkan ilmu kepada seluruh mahasiswa.

Penulis memohon kepada bapak dosen khususnya, umumnya para pembaca apabila menemukan kesalahan atau kekurangan dalam tugas makalah ini, baik dari segi bahasanya maupun isinya, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi lebih baiknya karya tulis yang akan datang.


Batam, 14 April 2015



Hormat Saya
Roy Damanik



BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Menurut banyak ilmuwan, filsafat merupakan induk dari segala ilmu pengetahuan yang kemudian berkembang menjadi begitu banyak cabang. Salah satu cabangnya yang berkembang begitu pesat ialah filsafat ilmu pengetahuan. Di abad-17, wacana filsafat menjadi topik utama, ditandai dengan munculnya pertanyaan epistemologi tentang bagaimana manusia memperoleh pengetahuan dan apa sarana yang paling memadai untuk mencapai pengetahuan yang benar, serta apa yang dimaksud dengan kebenaran itu sendiri. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang bercorak epistemologi ini, maka muncullah dua aliran filsafat yang memberikan jawaban yang berbeda, bahkan saling bertentangan. Aliran filsafat tersebut adalah rasionalisme dan empirisme. Empirisme sendiri pada abad ke-19 dan 20 berkembang lebih jauh menjadi beberapa aliran yang berbeda, yaitu positivisme, materialisme, pragmatisme. Dalam penulisan makalah ini, akan dibahas lebih luas tentang aliran pragmatisme.

B.     RUMUSAN MASALAH
Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam penulisan makalah ini, antara lain:
1.      Apa yang menjadi latar belakang serta defenisi pragmatisme?
2.      Siapa saja tokoh-tokoh filsafat pragmatisme?
3.      Bagaimana kritik terhadap pragmatisme?
4.      Apa yang menjadi kekuatan dan kelemahan pragmatisme?

C.    TUJUAN
Adapun yang menjadi tujuan dalam penulisan makalah ini, antara lain:
1.      Memahami latar belakang dan pengertian pragmatisme.
2.      Mengetahui siapa saja tokoh-tokoh filsafat pragmatisme.
3.      Memahami dengan baik kritik-kritik terhadap pragmatisme.
4.      Mengerti dan memahami kekuatan dan kelemahan pragmatisme.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    PENGERTIAN DAN LATAR BELAKANG PRAGMATISME

1.      PENGERTIAN PRAGMATISME
Pragmatisme berasal dari kata pragma (bahasa yunani) yang berarti tindakan, perbuatan. Aliran ini bersedia menerima segala sesuatu, asal saja membawa akibat praktis. Pengalaman-pengalaman pribadi, kebenaran mistis semua bisa diterima sebagai benar  dan dasar tindakan asalkan membawa akibat yang pragtis serta bermanfaat. Dengan demikian patokan pragmatisme adalah “manfaat bagi hidup praktis”. Kata pragmatisme sering sekali di ucapkan orang. Orang-orang menyebut kata ini biasanya  dalam pengertian praktis. Jika orang berkata, rencana ini kurang pragmatis, maka maksudnya adalah rencana ini kurang praktis. Pengertian seperti itu tidak begitu jauh dari pengertian pragmatisme yang sebenarnya, tapi belum menggambarkan keseluruhan pengertian pragmatisme.[1]
Menurut Kamus Ilmiah Populer, Pragmatisme adalah aliran filsafat yang menekankan pengamatan penyelidikan dengan eksperimen (tindak percobaan), serta kebenaran yang mempunyai akibat-akibat yang memuaskan. Sedangkan, defenisi pragmatisme lainnya adalah hal mempergunakan segala sesuatu secara berguna.[2]
Pragmatisme berasal dari kata “pragma” (Yunani) yang berarti tindakan atau perbuatan. Pragmatisme adalah aliran dalam filsafat yang berpandangan bahwa kriteria kebenaran sesuatu ialah apakah sesuatu itu memiliki kegunaan bagi kehidupan nyata. Pragmatisme berpandangan bahwa substansi kebenaran adalah jika segala sesuatu memiliki fungsi dan manfaat bagi kehidupan.[3]

2.      LATAR BELAKANG PRAGMATISME
Istilah Pragmatisme sebenarnya diambil oleh C.S Peirce dari Immanuel Kant. Kant sendiri memberi nama “keyakinan hipotesa tertentu yang mencakup penggunaan suatu sarana yang merupakan suatu kemungkinan real untuk mencapai tujuan tertentu”. Manusia memiliki keyakinan-keyakinan yang berguna tetapi hanya bersifat kemungkinan belaka, sebagaimana dimiliki oleh seorang dokter yang memberi resep untuk menyembuhkan penyakit tertentu. Tetapi Kant baru melihat bahwa keyakinan-keyakinan pragmatis akan dapat diterapkan misalnya dalam penggunaan obat dan semacamnya. Ia belum menyadari bahwa keyakinan seperti itu cocok untuk filsafat. Karena Peirce sangat tertarik untuk membuat filsafat dapat diuji secara ilmiah atau eksperimen, ia mengambil alih istilah pragmatisme untuk merancang suatu filsafat yang mau berpaling kepada konsekuensi praktis atau hasil eksperimental sebagai ujian bagi arti dan validitas idenya. Filsafat tradisional, meurut Peirce sangat lemah dalam metode yang akan memberi arti kepada ide-ide filosofis dalam rangka eksperimental serta metode yang akan menyusun dan memperluas ide-ide dan kesimpulan-kesimpulan sampai mencakup fakta-fakta baru. Metafisika dan logika tradisional hanya mengajukan teori-teori yang tertutup dan murni tentang arti, kebenaran, dan alam semesta. Pendeknya, filsafat tradisional tidak menambah sesuatu yang baru. Dengan sistemnya yang tertutup tentang kebenaran yang absolut, filsafat tradisional lebih menutup jalan untuk diadakannya penyelidikan dan bukan membawa kemajuan bagi filsafat dan ilmu pengetahuan.
Dalam rangka itulah Peirce mencoba merintis suatu pemikiran filosofis yang baru yang agak lain dari pemikiran filosofis tradisional. Pemikiran baru inilah yang diberi nama Pragmatisme. Pragmatis lalu dikenal pada permulaannya sebagai usaha Peirce untuk merintis suatu metode bagi pemikiran filosofis sebagaimana yang dikehendaki diatas.
Pragmatisme merupakan bagian sentral dari usaha filsafat tradisional menjadi ilmiah. Tetapi untuk merevisi seluruh pemikiran filosofis tradisional bukan suatu hal yang mudah. Untuk merubahnya diperlukan revisi logika dan metafisika yang merupakan dasar filsafat. Dengan demikian, pragmatisme muncul sebagai usaha refleksi analitis dan filosofis mengenai kehidupan Amerika sendiri yang dibuat oleh orang Amerika di amerika sebagai suatu bentuk pengalaman mendasar, dan meninggalkan jejaknya pada setiap kehidupan Amerika. Oleh karena itu, ada satu alasan yang kuat untuk meyakini bahwa pragmatisme mewakili suatu pandangan asli Amerika tentang hidup dan dunia. Atau barangkali lebih tepat kalau dikatakan bahwa pragmatisme mengkristalisasikan keyakinan-keyakinan dan sikap-sikap yang telah menentukan perkembangan Amerika sebagaimana menggejala dalam berbagai aspek kehidupannya, misalnya dalam penerapan tekhnologi, kebijakan-kebijakan politik, pemerintah dan sebagainya.[4]

B.     TOKOH FILSAFAT PRAGMATISME
Filsuf yang terkenal sebagai tokoh filsafat pragmatisme adalah Charles Sanders Peirce, William James dan John Dewey.

1.      Charles Sanders Peirce
Charles mempunyai gagasan bahwa hipotesis (dugaan sementara/pegangan dasar) itu benar bila bisa diterapkan dan dilaksanakan menurut tujuan kita. Horton dan Edwards di dalam sebuah buku yang berjudul Backgroud of American Literary Thought (1974) menjelaskan bahwa Peirce memformulasikan tiga prinsip-prinsip lain yang menjadi dasar bagi pragmatisme sebagai berikut:[5]
                                            i.            Bahwa kebenaran ilmu pengetahuan sebenarnya tidak lebih daripada kemurnian opini manusia.
                                          ii.            Bahwa apa yang kita namakan “universal” adalah yang pada akhirnya setuju dan menerima keyakinan dari “community of knowers”.
                                        iii.            Bahwa filsafat dan matematika harus dibuat lebih praktis dengan membuktikan bahwa problem dan kesimpulan-kesimpulan yang terdapat dalam filsafat dan matematika merupakan hal yang nyata bagi masyarakat (komunitas).

2.      William James (1842-1910 M)
William James lahir di New York pada tahun 1842 M, anak dari Hery James, Sr. Ayahnya adalah orang yang terkenal, berkedudukan yang tinggi, pemikir yang kreatif, selain kaya keluarganya memang dibekali kemampuan intelektual yang tinggi. Keluarganya juga menerapkan humanisme dalam kehidupan serta mengembangkannya. Ayah James rajin mempelajari manusia dan agama. Kehidupan James penuh dengan masa belajar yang dibarengi usaha yang kreatif untuk menjawab berbagai masalah yang berkenaan dengan kehidupan. Karya-karyanya antara lain, The Principles Of Psychology (1890), Thee Will To Belive (1897), The Varietes Of Religious Exsperience (1902), dan Pragmatism (1970).[6]
Dalam bukunya The Meaning Of The Truth, James mengemukakan tidak ada kebenaran mutlak, yang berlaku umum, yang bersifat tetap, yang berdiri sendiri dan terlepas dari segala akal yang mengenal, melainkan yang ada hanya kebenaran-kebanaran plural. Yang dimaksud dengan kebenaran-kebenaran plural adalah apa yang benar dalam pengalaman-pengalaman khusus yang setiap kali dapat diubah oleh pengalaman berikutnya. James mengemukakan dua hal pokok dalam filsafat, yakni Tough Minded (mencari kebenaran lewat pendekatan empiris) dan Tender Minded (mengakui kebenaran yang bersifat rasional). William James juga mengajukan prinsip-prinsip dasar terhadap pragmatisme:[7]
                                            i.            Bahwa dunia tidak hanya terlihat menjadi spontan, berhenti dan tak dapat diprediksi tetapi dunia benar adanya.
                                          ii.            Bahwa kebenaran tidaklah melekat dalam ide-ide tetapi sesuatu yang terjadi pada ide-ide dalam proses yang dipakai dalam situasi kehidupan nyata.
                                        iii.            Bahwa manusia bebas untuk meyakini apa yang menjadi keinginannya untuk percaya pada dunia, sepanjang keyakinannya tidak berlawanan dengan pengalaman praktisnya maupun penguasaan ilmu pengetahuannya.
                                        iv.            Bahwa nilai akhir kebenaran tidak merupakan satu titik ketentuan yang abslout, tetapi semata-mata terletak dalam kekuasaannya mengarahkan kita kepada kebenaran-kebenaran yang lain tentang dunia tempat kita tinggal didalamnya.

3.      John Dewey (1859 M)
Menurut John Dewey, tugas filsafat adalah memberikan pengarahan bagi perbuatan nyata. Filsafat tidak boleh larut dalam pemikiran-pemikiran metafisis yang kurang praktis, tidak ada faedahnya. Oleh karena itu, filsafat harus berpijak pada pengalaman dan mengolahnya secara kritis. Menurut Dewey, tak ada sesuatu yang tetap. Manusia senantiasa bergerak dan berubah. Jika mengalami kesulitan, segera berpikir untuk mengatasi kesulitan itu.[8]
Menurut Dewey, kita hidup dalam dunia yang belum selesai penciptaanya. Sikap Dewey dapat dipahami dengan sebaik-baiknya dengan meneliti tiga aspek dari yang kita namakan instrumentalisme.[9]
                                            i.            Pertama, kata temporalisme yang berarti ada gerak dan kemajuan nyata dalam waktu.
                                          ii.            Kedua, kata futurisme, mendorong kita untuk melihat hari esok dan tidak pada hari kemarin.
                                        iii.            Ketiga, milionarisme, berarti bahwa dunia dapat dibuat lebih baik dari tenaga kita. Pandangan ini juga dianut oleh William James.


C.    KRITIK TERHADAP PRAGMATISME
Kekeliruan Pragmatisme dapat dibuktikan dalam tiga tataran pemikiran sebagai berikut:[10]
1.      Kritik Dari Segi Landasan Ideologi Pragmatisme
Pragmatisme dilandaskan pada pemikiran dasar pemisahan agama dari kehidupan (sekularisme). Hal ini nampak dari perkembangan historis kemunculan pragmatisme, yang merupakan perkembangan lebih lanjut dari empirisme. Dengan demikian, dalam konteks ideologis, Pragmatisme berarti menolak agama sebagai sumber ilmu pengetahuan.
2.      Kritik Dari Segi Metode Pemikiran
Pragmatisme yang tercabang dari Empirisme nampak jelas menggunakan metode ilmiah, yang dijadikan sebagai asas berpikir untuk segala bidang pemikiran, baik yang berkenaan dengan sains dan teknologi maupun ilmu-ilmu sosial kemasyarakatan. Ini adalah suatu kekeliruan.
3.      Kritik Terhadap Pragmatisme Itu Sendiri
Pragmatisme adalah aliran yang mengukur kebenaran suatu ide dengan kegunaan praktis yang dihasilkannya untuk memenuhi kebutuhan manusia. Ide ini keliru dari tiga sisi.
                                                              i.      Pertama, Pragmatisme mencampur adukkan kriteria kebenaran ide dengan kegunaan praktisnya. Kebenaran suatu ide adalah satu hal, sedang kegunaan praktis ide itu adalah hal lain. Kebenaran sebuah ide diukur dengan kesesuaian ide itu dengan realitas, atau dengan standar-standar yang dibangun di atas ide dasar yang sudah diketahui kesesuaiannya dengan realitas. Sedang kegunaan praktis suatu ide untuk memenuhi keinginan manusia, tidak diukur dari keberhasilan penerapan ide itu sendiri, tetapi dari kebenaran ide yang diterapkan. Maka, kegunaan praktis ide tidak mengandung implikasi kebenaran ide, tetapi hanya menunjukkan fakta terpuaskannya kebutuhan manusia.
                                                            ii.      Kedua, pragmatisme menolak peran akal manusia. Menetapkan kebenaran sebuah ide adalah aktivitas intelektual dengan menggunakan standar-standar tertentu. Sedang penetapan kepuasan manusia dalam pemenuhan kebutuhannya adalah sebuah identifikasi instinktif. Memang identifikasi instinktif dapat menjadi ukuran kepuasan manusia, tapi tak dapat menjadi ukuran kebenaran sebuah ide. Maka, pragmatisme berarti telah menolak aktivitas intelektual dan menggantinya dengan identifikasi instinktif. Atau dengan kata lain, pragmatisme telah menundukkan keputusan akal kepada kesimpulan yang dihasilkan dari identifikasi instinktif .
                                                          iii.      Ketiga, pragmatisme menimbulkan relativitas kebenaran sesuai dengan perubahan subjek penilai ide (baik individu, kelompok, dan masyarakat) dan perubahan konteks waktu dan tempat. Dengan kata lain, kebenaran hakiki pragmatisme baru dapat dibuktikan setelah melalui pengujian kepada seluruh manusia dalam seluruh waktu dan tempat. Dan ini mustahil dan tak akan pernah terjadi. Maka, pragmatisme berarti telah menjelaskan inkonsistensi internal yang dikandungnya dan menolak dirinya sendiri.

D.    KEKUATAN DAN KELEMAHAN PRAGMATISME

1.      KEKUATAN PRAGMATISME
Ada bebarapa hal yang dianggap merupakan kekuatan dari filsafat pragmatisme, yakni:[11]
                                            i.            Kemunculan pragmatis sebagai aliran filsafat dalam kehidupan kontemporer, khususnya di Amerika Serikat, telah membawa kemajuan-kemajuan yang pesat bagi ilmu pengetahuan maupun teknologi. Pragmatisme telah berhasil membumikan filsafat dari corak sifat yang Tender Minded yang cenderung berfikir metafisis, idealis, abstrak, intelektualis, dan cenderung berfikir hal-hal yang memikirkan atas kenyataan, metrialis, dan atas kebutuhan-kebutuhan dunia. Dengan demikian, filsafat pragmatisme mengarahkan aktivitas manusia untuk hanya sekedar mempercayai pada hal yang sifatnya riil, indrawi, dan yang memanfaatkannya bisa dinikmati secara praktis-pragmatis dalam kehidupan sehari-hari.
                                          ii.            Pragmatisme telah berhasil mendorong befikir yang liberal, bebas dan selalu menyangsikan segala yang ada. Barangkali dari sifat skeptis tersebut, pragmatisme telah mampu mendorong dan memberi semangat pada seseorang untuk berlomba-lomba membuktikan suatu konsep lewat penelitian-penelitian, pembuktian-pembuktian dan eksperimen-eksperimen sehingga muncullah temuan-temuan baru dalam dunia ilmu pengetahuan yang mampu mendorong secara dahsyat terhadap kemajuan dibidang sosial dan ekonomi.
                                        iii.            Sesuai dengan coraknya yang sekuler, pragmatisme tidak mudah percaya pada “kepercayaan yang mapan”. Suatu kepercayaan yang diterima apabila terbukti kebenarannya lewat pembuktian yang praktis sehingga pragmatisme tidak mengakui adanya sesuatu yang sakral dan mitos. Dengan coraknya yang terbuka, kebanyakan kelompok pragmatisme merupakan pendukung terciptanya demokratisasi, kebebasan manusia dan gerakan-gerakan progresif dalam masyarakat modern.


2.      KELEMAHAN PRAGMATISME
Jika ada kekuatan, maka tentu sekali ada kelemahan, adapun yang menjadi kelemahan dari filsafat pragmatisme, antara lain:[12]
                                            i.            Karena pragmatisme tidak mau mengakui sesuatu yang bersifat metafisika dan kebenaran absolute (kebenaran tunggal), hanya mengakui kebenaran apabila terbukti secara alamiah, dan percaya bahwa dunia ini mampu diciptakan oleh manusia sendiri, secara tidak langsung pragmatisme sudah mengingkari sesuatu yang transendental (bahwa Tuhan jauh diluar alam semesta). Kemudian pada perkembangan lanjut, pragmatisme sangat mendewakan kemampuan akal dalam mencapai kebutuhan kehidupan, maka sikap-sikap semacam ini menjurus kepada ateisme.
                                          ii.            Karena yang menjadi kebutuhan utama dalam filsafat pragmatisme adalah sesuatu yang nyata, praktis, daan langsung dapat dinikmati hasilnya oleh manusia, maka pragmatisme menciptakan pola pikir masyarakat yang materialis. Manusia berusaha secara keras untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang bersifat rohaniah. Maka dalam otak masyarakat pragmatisme telah dihinggapi oleh penyakit materialisme.
                                        iii.            Untuk mencapai materialismenya, manusia mengejarnya dengan berbagai cara, tanpa memperdulikan lagi dirinya merupakan anggota dari masyarakat sosialnya. Ia bekerja tanpa mengenal batas waktu, untuk sekedar memenuhi kebutuhan materinya, maka dalam struktur masyarakatnya manusia hidup semakin egois individualisme. Dari sini, masyarakat pragmatisme menderita penyakit humanisme.


BAB III
KESIMPULAN

Pragmatisme berasal dari kata pragma (Yunani) yang berarti tindakan, perbuatan. Filsuf yang terkenal sebagai tokoh filsafat pragmatisme adalah Charles Sanders Peirce, William James dan John Dewey. James mencetuskan aliran atau paham yang menitik beratkan bahwa kebenaran ialah apa yang membuktikan dirinya sebagai yang benar dengan memperhatikan kegunaannya secara praktis. Sedangkan John Dewey mengemukakan bahwa filsafat bertujuan untuk memperbaiki kehidupan manusia serta lingkungannya atau mengatur kehidupan manusia serta aktifitasnya untuk memenuhi kebutuhan manusiawi. Bagi John Dewey, manusia itu bergerak dalam kesungguhan yang selalu berubah.
Sama halnya seperti aliran-aliran filsafat pada umumnya, pragmatisme juga memiliki kekuatan dan kelemahan sehingga menimbulkan kritik-kritik bahkan kekeliruan. Kekeliruan pragmatisme dapat dibuktikan dalam tiga tataran pemikiran, yakni: (1) Kritik dari segi landasan ideologi pragmatisme, (2) Kritik dari segi metode pemikiran, dan (3) Kritik terhadap pragmatisme itu sendiri.



DAFTAR PUSTAKA

Hakim, Atang Abdul; Beni Ahmad Saebani, Filsafat Umum Dari Mitologi Sampai Teofilosofi (Bandung: Pustaka Setia, 2008)

Praja, Juhaya. S, Aliran-Aliran Filsafat & Etika (Jakarta: Prenada Media, 2003)

Siahaya Johannis, Pengantar Filsafat (Yogyakarta: Charista Press, 2013)

Tafsir Ahmad,  Filsafat Umum Akal dan Hati sejak Thales Sampai James (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992)


http://www.academia.edu/5672820/PRAGMATISME





[1] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum Akal dan Hati sejak Thales Sampai James (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992), hal. 166.
[2] Johannis Siahaya, Pengantar Filsafat (Yogyakarta: Charista Press, 2013), hal. 179.
[3] Atang Abdul Hakim; Beni Ahmad Saebani, Filsafat Umum Dari Mitologi Sampai Teofilosofi (Bandung: Pustaka Setia, 2008), hal. 319.
[4] http://atthamimy.blogspot.com/2012/12/aliran-filsafat-pragmatisme.html
[5] Johannis Siahaya, Pengantar Filsafat (Yogyakarta: Charista Press, 2013), hal. 182.
[6] Juhaya S. Praja, Aliran-Aliran Filsafat & Etika (Jakarta: Prenada Media, 2003), hal. 172.
[7] Johannis Siahaya, Pengantar Filsafat (Yogyakarta: Charista Press, 2013), hal. 183.
[8] Atang Abdul Hakim; Beni Ahmad Saebani, Filsafat Umum Dari Mitologi Sampai Teofilosofi (Bandung: Pustaka Setia, 2008), hal. 320.
[9] Johannis Siahaya, Pengantar Filsafat (Yogyakarta: Charista Press, 2013), hal. 187.
[10] http://www.academia.edu/5672820/PRAGMATISME
[11] Johannis Siahaya, Pengantar Filsafat (Yogyakarta: Charista Press, 2013), hal. 190.
[12] Johannis Siahaya, Pengantar Filsafat (Yogyakarta: Charista Press, 2013), hal. 192.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar