Senin, 22 Februari 2016

SEMESTER VII (TUGAS PRESENTASE, KONTRIBUSI TOKOH PENDIDIKAN Horace Bushnell BAGI PENDIDIKAN)

TUGAS PRESENTASE
KONTRIBUSI TOKOH PENDIDIKAN
Horace Bushnell
BAGI PENDIDIKAN

Nama Kelompok 4:
Cahniari Purba
Derman Ndruru
Rikawati Sinaga
Roy Damanik
Simeon Bofe



KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur kita ucapkan kepada Tuhan Yesus Kristus, karena atas kemurahan-Nya tugas makalah dan presentase ini dapat kelompok selesaikan dengan tepat waktu. Tugas ini kelompok serahkan kepada pembina mata kuliah Sejarah dan Pemikiran Pendidikan Agama Kristen, Ibu Susi Tampubolon, S.Pd.K., M.Pd.K©, sebagai salah satu syarat kelulusan mata kuliah tersebut. Tidak lupa kelompok mengucapkan terima kasih kepada ibu dosen yang telah berjasa mencurahkan ilmu kepada seluruh mahasiswa.

Kelompok memohon kepada ibu dosen khususnya, umumnya para pembaca apabila menemukan kesalahan atau kekurangan dalam tugas makalah dan presentase ini, baik dari segi bahasanya maupun isinya, kelompok mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi lebih baiknya karya tulis yang akan datang.


Batam, November 2015



Hormat Kami
Kelompok 4



BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Horace Bushnell adalah seorang teolog Amerika yang menyumbangkan pemikirannya bagi teori dan praktik pendidikan agama Kristen dan juga mengarang buku Christian Nurture. Buku ini merupakan hasil refleksi Bushnell mengenai anugerah Allah yang dirasakan dalam setiap kehidupan keluarga Kristen. Berdasarkan pengalamannya sebagai pendeta jemaat Kongregasional, Bushnell menyatakan bahwa teologi mengorbankan kemauan manusia demi penekanan atas kedaulatan Allah sehingga manusia sama sekali tidak berdaya untuk bertobat dan menerima Kristus sebagai juru selamat.[1]

B.     RUMUSAN MASALAH
Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam penulisan makalah kelompok dan presentasi ini, antara lain:
1.      Siapa itu Horace Bushnell?
2.      Bagaimana dasar filosofis dan teologis Horace Bushnell?
3.      Bagaimana konsep pendidikan Horace Bushnell?
4.      Apa saja yang menjadi komponen pendidikan menurut Horace Bushnell?
5.      Bagaimana strategi dan pemahaman pendidikan menurut Horace Bushnell?
6.      Apa saja yang menjadi kontribusi Horace Bushnell bagi pendidikan masa kini?

C.    TUJUAN PENULISAN
Adapun yang menjadi tujuan penulisan dalam makalah kelompok dan presentasi ini antara lain:
1.      Mengetahui dengan baik tentang Horace Bushnell.
2.      Memahami tentang dasar filosofis dan teologis Horace Bushnell.
3.      Memahami tentang konsep pendidikan Horace Bushnell.
4.      Mengetahui komponen pendidikan menurut Horace Bushnell.
5.      Memahami strategi dan pemahaman pendidikan menurut Horace Bushnell.
6.      Mengetahui tentang kontribusi Horace Bushnell bagi pendidikan masa kini.

  
BAB II
PEMBAHASAN

A.    RIWAYAT HIDUP HORACE BUSHNELL
Bushnell lahir pada tanggal 14 April 1802, sebagai anak sulung keluarga petani yang tinggal di dekat Desa Litchfield, Negara Bagian Connecticut. Ketika usia Bushnell mencapai 20 tahun, ia pun melanjutkan pendidikannya ke Universitas Yale pada tahun 1823. Tahun 1827 ia menyelesaikan studinya lalu mencoba menjadi guru, namun profesi guru ternyata tidak sesuai dengan minatnya. Setelah lima bulan menjadi guru ia berhenti mengajar dan menjadi redaktur surat kabar New York Journal of Commerce. Meskipun dunia jurnalistik cukup menarik, namun ia merasa belum menemukan panggilan hidupnya yang sesungguhnya. Karena itu ia kembali lagi ke kampus untuk menempuh studi di Fakultas Hukum. Kehadirannya kembali di kampus ternyata menarik perhatian Rektor pada saat itu yang kemudian menawarinya menjadi tutor. Lewat pergumulan serta atas dorongan ibunya, Bushnell akhirnya menerima tawaran tersebut. Jabatan sebagai tutor ia laksanakan dengan baik sehingga ia sangat dihargai oleh mahasiswa. Ia berhasil menyelesaikan studinya dengan baik pada tahun 1831 dan mendapat izin untuk melakukan praktik sebagai pengacara, meskipun ia sendiri tidak pernah mengajukan permohonan untuk membuka praktik pengacara. Panggilan hidupnya akhirnya ia temukan bersamaan dengan maraknya kegiatan kebangunan rohani yang melanda kampus Yale saat itu. Ia kemudian mengambil keputusan penting yakni melupakan cita-citanya menjadi pengacara dan membulatkan tekad untuk menjadi pendeta. Khotbahnya di kapel Yale seolah-olah menjelaskan pergumulan batinnya ketika memutuskan menjadi pendeta. Tanggal 22 Mei 1833, Horace Bushnell ditahbiskan dan dilantik menjadi pendeta jemaat North Church, Hartford, di negara bagian Connecticut, satu-satunya jemaat yang ia layani sepanjang masa hidupnya. Lima bulan setelah itu ia menikah dengan Mary Aptorph. Tahun 1845, ketika berusia 43 tahun, saat ia berada di puncak keberhasilan pelayannya, Bushnell terpaksa harus menjalani liburan selama satu tahun karena menderita sakit paru-paru, sejak itu kesehatannya mulai merosot. Setelah masa liburnya berakhir ia terus melayani dan menulis buku, bahkan melibatkan diri dalam urusan perkotaan dengan mengusulkan pembangunan taman kota di pusat kota, tempat yang sebelumnya dijadikan lokasi pembuangan sampah, kandang babi, gudang-gudang, bengkel kereta api, dan rumah susun bermutu rendah. Melalui kegigihannya, taman tersebut akhirnya berhasil dibangun dan diberi nama Bushnell Park, sebagai penghargaan dan terima kasih kepada penggagasnya. Kesehatannya yang terus menurun mengakibatkan Bushnell tidak mampu menyelesaikan penulisan buku mengenai Roh Kudus yang ia mulai tahun 1875 sampai akhirnya meninggal dunia pada 17 Februari 1876.[2]

B.     DASAR FILOSOFIS DAN TEOLOGIS
Bushnell merancang filsafat asuhan Kristennya sebagai reaksi terhadap Revivalisme pada masanya dan lebih jauh sebagai reaksi terhadap tekanan “pertobatan” dari Puritanisme tradisional. Pada tahun 1840-an Revivalisme kembali melanda negerinya: pada pertengahan abad ke-19 Charles Finney melakukan apa yang Jonathan Edwards dan George Whitefiled telah lakukan bag Amerika pada abad ke-18. Mirip dengan para pendahulunya, Revivalisme abad ke-19 menekankan keadaan manusia yang rusak total dan mendesak orang-orang untuk mengalami pertobatan yang radikal agar beriman kepada Yesus Kristus.[3]

1.      DASAR FILOSOFIS
Dasar filosofis Bushnell, sekaligus merupakan refleksi dari hasil pergumulan hidupnya dituangkan dalam enam asas yang menjadi sokoguru dalam kehidupannya, yaitu:[4] (a) jangan takut akan keragu-raguan anda; (b) sebaiknya anda takut akan setiap perdebatan yang walaupun cerdik namun kosong isinya. Ya, sebaiknya anda takut akan setiap muslihat, dan pertentangan yang dihasilkan oleh argumentasi yang tidak jujur; (c) kalau anda menghina orang lain, maka tindakan itu akan berdampak fatal atas diri anda sendiri; (d) jangan menganggap sesuatu benar hanya karena kalau memegangnya anda lebih aman ketimbang sebaliknya, yakni untuk menarik kesimpulan yang tidak diterima secara umum; (e) terimalah hal ini sebagai hukum, yakni jangan memaksakan nalar menarik kesimpulan tertentu ataupun untuk percaya akan sesuatu; (f) jangan memaksakan diri lekas percaya; jangan berusaha menang atas keragu-raguan anda menurut batas waktu tertentu.

2.      DASAR TEOLOGIS
Konsep Teologis Bushnell terlihat dari gaya berteologi dan Teologi bahasa keagamaannya.[5]

a.      Gaya Berteologi, Bushnell menganut gaya berteologi yang menolak setiap usaha orang untuk membekukan iman Kristen dalam pokok ajaran teologi yang ia warisi tanpa berefleksi atas artinya dalam konteks yang berbeda, dan cara ia menjelaskan pokok iman Kristen berdasarkan pembahasan bahasa keagamaan yang bersifat khas. Dalam pandangan Bushnell gaya berteologi yang tertutup dan tidak konstekstual akan mudah menimbulkan perselisihan di kalangan umat Kristen.

b.      Teologi Bahasa Keagamaan, Bushnell berpendapat bahwa pembicaraan yang tidak berkaitan langsung dengan benda/objek tertentu selalu menuntut penggunaan bahasa simbolis dan figuratif, karena itu anggapan yang mengatakan bahwa kata-kata yang digunakan dalam mengungkapkan sebuah gagasan tertentu telah mencakup seluruh arti dalam gagasan tersebut adalah sebuah kekeliruan. Bahasa keagamaan hanya mendekati arti yang sebenarnya, karena itu mustahil menggambarkan kenyataan rohani secara lengkap.

Untuk memperkuat argumentasinya Bushnell merumuskan lima asas pemahaman dasariah penggunaan bahasa di kalangan orang beriman sebagai berikut: (a) Pengalaman pribadi menentukan arti, Dalam memberi makna terhadap kata tertentu setiap orang dipengaruhi oleh pengalaman hidup dan pengumulannya; (b) Kenyataan rohani hanya diungkapkan melalui kiasan saja, Setiap bahasa keagamaan hanya dapat diucapkan dengan ibarat yang tidak sama dengan kenyataan yang ditunjukkan atau dilambangkan oleh ibarat tersebut; (c) Peristilahan keagamaan bersifat paradoks, Melalui paradoks kita ditolong lebih dekat kepada kebenaran dari pada melalui penalaran; (d) Peristilahan keagamaan lebih menunjuk kepada kebenaran dari pada menyampaikan kebenaran, Istilah keagamaan tidak menyampaikan kebenaran secara langsung, tetapi membangkitkan kesadaran pendengar atau pembaca tentang kebenaran yang dilambangkan atau ditunjukkannya; (e) Bahasa keagamaan membangkitkan iman, Bushnell melihat bahasa keagamaan sebagai sarana insani yang lebih kuat daripada argumentasi logis untuk membangkitkan iman.

C.    KONSEP-KONSEP PENDIDIKAN
Konsep pendidikan Bushnell membahas tentang apa itu pendidikan agama Kristen dan apa yang menjadi tujuan pendidikan agama Kristen.[6]

1.      Pendidikan Agama Kristen
Bushnell mengemukakan bahwa ada asuhan Kristen yang berasal dari Tuhan yang akan menjadi cara Tuhan mendidik. Dimana anak akan dibesarkan sebagai seorang Kristen. Menurut Bushnell, Pendidikan Aagama Kristen adalah pelayanan dari pihak orang tua Kristen dan gereja yang secara khusus melibatkan anak-anak dengan cara yang wajar dalam pengalaman keluarga dan kehidupan jemaat tanpa mengharuskan anak-anak itu lebih dulu mengalami pertobatan yang hebat pada umur tertentu. Kedua, PAK adalah pelayanan kegerejaan yang membimbing orang tua untuk memenuhi panggilannya sebagai orang tua Kristen dan sekaligus pula memperlengkapi warga jemaat untuk hidup sebagai anggota persekutuan yang beribadah, bersaksi, mengajar, belajar, dan melayani atas nama Yesus Kristus. Dalil Bushnell tersebut hanya berlaku bagi anak yang dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga Kristen.

2.      Tujuan Pendidikan Agama Kristen
Tujuan Pendidikan Agama Kristen menurut Bushnell ada tiga. Pertama, tujuan PAK bagi kelompok pelajar anak-anak adalah agar mereka menerima kepercayaan dan nilai-nilai yang dianut oleh orang tuanya, belajar bertindak baik serta bertumbuh secara wajar dalam iman Kristen sebagai anggota jemaat. Kedua, tujuan PAK bagi bagi kelompok pelajar orang tua adalah menyediakan pengalaman belajar yang menolong orang tua mempertimbangkan sejumlah cara mengurus rumah tangga dan dampaknya secara khusus terhadap pertumbuhan anak, melibatkan mereka dalam penelaahan sumber iman Kristen kepada anak baik melalui perkataan maupun perbuatan. Ketiga, tujuan PAK bagi kelompok pelajar warga jemaat adalah menyediaakan pengalaman belajar secara teratur melalui seluruh liturgi kebaktian khususnya melalui khotbah agar mereka diperlengkapi bukan hanya menjadi jemaat Kristen yang mampu mengatasi masalah hidup mereka melainkan juga menjadi warga Negara yang baik yang setia kepada Tuhan.

D.    PENDIDIKAN DALAM KELUARGA
Keluarga, yang beribadah bersama di dalam gereja, bersaksi tentang kegiatan Allah dalam menciptakan dan mempertahankan keluarga itu dan dalam menebus hubungan-hubungan keluarga hari demi hari. Si anak yang berpartisipasi dengan keluarganya menjadi sadar tentang bagaimana hubungan-hubungan ini saling berinteraksi. Ini bukanlah masalah tentang usia berapa si anak harus mengikuti ibadah atau panjangnya ibadah itu. Keprihatinannya disini ialah bagaimana keluarga yang beribadah bersama ini dapat menjadi saluran kasih karunia Allah agar kasih karunia itu berlaku dalam kelompok masyarakat. Kehadiran anak-anak di banyak gereja saat ini begitu luar biasa sehingga orangtua seringkali terkejut ketika anak lebih suka beribadah dengan keluarganya ketimbang menghadiri sekolah minggu gereja. Budaya kelas menengah Amerika telah cenderung memisahkan orang tua dan anak-anak, dan jarang sekali keluarga dapat berpartisipasi bersama dalam hal apapun.[7]

E.     RUANG LINGKUP PENDIDIKAN
Bagi Bushnell, ada dua konteks utama pendidikan agama Kristen, yakni rumah tangga dan jemaat itu sendiri.[8]

1.      Rumah Tangga
Bushnell mengatakan “segala hubungan dalam keluarga, termasuk iman, menghasilkan mutu kehidupan yang khas dari keluarga itu”. Artinya, anak akan cenderung menyerap kekuatan dan kelemahan keluarganya, karena di dalam rumah tangga anak menerima pendidikan secara langsung. Pendidikan di dalam keluarga membutuhkan wibawa dari orang, terutama ayah, dan pendekatan yang proporsional, tidak merampas kemerdekaan anak, tetapi memiliki standar yang jelas dan tegas.

2.      Jemaat
Jemaat perlu menyambut anak ke dalam persekutuan dan menyediakan pengalaman belajar yang teratur, dan bekerja sama dengan orang tua untuk melibatkan anak-anak yang sudah dibaptis dalam PAK.

3.      Pengajar
Bushnell membagi pengajar dalam beberapa golongan. Golongan pengajar yang pertama adalah orang tua. Orang tua sebagai pengajar perlu memperhatikan beberapa hal berikut: (1) Orang tua wajib mengendalikan diri, sabar, tidak mudah tersinggung, dan tidak mudah marah. (2) Janganlah orang tua senantiasa melarang anak berbuat sesuatu. (3) Hendaklah orang tua menjauhkan diri dari segala macam kekerasan, kekejaman, dan absolutism yang bersifat menguasai terhadap anaknya. (4) Hendaklah orang tua mengembangkan kesalehan dalam diri anak dengan jalan memperlihatkan kegembiraan, memuji, dan menghargai setiap prestasi yang ia capai. Golongan pengajar yang kedua adalah jemaat. Dalam pemikiran Bushnell istilah jemaat itu mencakup orang-orang dari segala golongan umur. Jemaat hendaknya melaksanakan dua pelayanan pedagogis berikut ini. Pertama, jemaat perlu membaptis anak karena Allah menjadikan anak itu ahli waris dari segala janji-Nya melalui iman orang tuanya. Kedua, jemaat wajib melibatkan anak-anak yang sudah dibaptis ke dalam rencana PAK. Para pendeta sebagai pengajar hendaknya menyediakan bahan pemikiran yang dapat diolah kembali oleh para warga jemaat untuk memperlengkapi hidup mereka sebagai murid Yesus Kristus didalam lingkungan rumah tangga, gereja, masyarakat dan Negara. Golongan pengajar yang keempat adalah anak-anak. Anak-anak adalah pengajar meskipun jati diri anak-anak acapkali lebih berkaitan dengan peranannya sebagai pelajar. Bushnell menyatakan bahwa apa yang orang tua pelajari dari anak-anak adalah sama pentingnya dengan apa yang mereka ajarkan kepada anak-anak, bahkan bimbingannya berfaedah justru karena mereka terus belajar dari anaknya.

F.     KOMPONEN PENDIDIKAN
Bushnell membahas komponen pendidikan melalui dua konteks, yakni pelajar dan kurikulum.


1.      Pelajar
Bushnell membagi pelajar ke dalam tiga golongan. Golongan pelajar yang pertama adalah anak-anak. Anak-anak sebagai pelajar memiliki lima jati diri. Pertama, anak merupakan anak Allah. Kedua, anak seorang yang dibesarkan secara organis dalam kelompok khususnya keluarga. Ketiga, anak adalah anggota jemaat yang sekaligus pelajar dikalangan jemaat. Keempat, anak sama seperti orang tuanya adalah makhluk yang diperlemah oleh daya tarik dosa. Kelima, anak memiliki kemampuan untuk berkembang. Golongan pelajar yang kedua adalah orang tua. Orang tua sebagai pelajar memiliki dua jati diri yang khas. Pertama, orang tua merupakan orang yang terbelenggu oleh dosa dan tidak selayaknya menjadi orang tua. Kedua, mereka dapat dipersiapkan menjadi orang tua yang lebih mampu guna memenuhi panggilan yang mulia sebagai orang tua Kristen. Golongan pelajar yang ketiga adalah warga jemaat, jemaat adalah pengajar dan sekaligus pula pelajar yang membuka diri terhadap pengalaman belajar.[9]

2.      Kurikulum
Sama halnya seperti pelajar, Bushnell juga membagi kurikulum dalam tiga hal, yakni kurikulum bagi anak-anak, orangtua dan warga jemaat.[10]

a.      Kurikulum bagi anak-anak
Kurikulum bagi anak-anak meliputi: (1) mengendalikan tubuh, yakni berkaitan dengan penanaman dasar-dasar pola hidup yang teratur melalui pembiasaan untuk membentuk perilaku-perilaku positif yang memiliki dimensi rohani; (2) perkembangan kesalehan, berkaitan dengan keteladanan dan model yang dilihat langsung oleh anak, antara lain: (a) orang tua harus mampu mengendalikan diri ketika mengajar anak-anak, (b) jangan terlalu banyak melarang, (c) jauhkan diri dari kekerasan terhadap anak, (d) hargai prestasi anak dan perlihatkan kegembiraan seperti yang dirasakan anak, (e) jika harus menghukum anak lakukanlah secara proporsional, (f) sebelum mengatakan anak bersalah orang tua harus berusaha lebih dahulu memperoleh informasi yang benar, (f) jangan menunjukkan perasaan khawatir yang berlebihan terhadap anak, (g) perlakukan anak sesuai dengan usianya; (3) keanggotaan dalam jemaat, meliputi pengembangan liturgi khusus, kesempatan untuk mengambil bagian dalam kebaktian pagi, penyediaan bahan cetak yang berisi panduan untuk orang tua dan jemaat guna mendidik anak dalam iman Kristen. Untuk anak-anak muda kurikulum mencakup cerita-cerita dari Alkitab, nyanyian rohani yang sederhana, doa-doa, Dasa Titah, Doa Bapa Kami, Pengakuan Iman Rasuli, arti Sakramen, Hari Minggu, dan hari raya lainnya yang disesuaikan dengan minat dan kemampuan anak

b.      Kurikulum bagi orang tua
Kurikulum bagi orang tua meliputi “pengetahuan, pengertian, dan keterampilan tentang tiga pokok utama, yakni dampak kelakuan mereka atas perkembangan rohani anaknya, cara mengembangkan rumah tangga yang sehat, saleh dan berbahagia, dan pokok-pokok iman Kristen itu sendiri.”

c.       Kurikulum bagi warga jemaat
Kurikulum bagi jemaat meliputi “bahan-bahan yang menolong orang dewasa untuk menelaah peristilahan yang orang-orang Kristen cenderung pakai dalam mengkomunikasikan iman.”

G.    STRATEGI DAN PEMAHAMAN PENDIDIKAN
Sebagian pengajaran dilakukan oleh anggota-anggota tertentu yang dipilih gereja. Pribadi-pribadi dalam masyarakat melaksanakan pengajaran, dan dengan demikian mereka mewakili gereja dan berbicara atas nama gereja. Seorang guru tidak bebas mengajarkan pandangan pribadinya, melainkan memperantarai pengalaman yang berlanjut dari iman Kristen, yang dilihat melalui norma kerygma. Hal ini bukan merupakan ikatan yang sengaja diberikan kepada guru, namun karena sudah sewajarnya gereja memilih guru-guru bagi para anggota muda yang sudah menjadi saksi bagi kasih Allah yang menebus. Guru mengaharapkan agar anak pun akan ikut serta memperoleh pengalaman ini, yakni menyambut kasih karunia Allah dan dengan sukarela menyerahkan dirinya ke dalam kehidupan Kristen. Guru mewakili gereja diberi tugas untuk menjadikan masa lalu menjadi relevan bagi hidup masa kini serta menghubungkan anak kepada Kristus yang hidup. Dengan mewakili gereja, tubuh Kristus yang hidup, si guru mengemban tanggung jawab yang besar. Guru akan mampu menerima tanggungjawab ini bila dia sendiri berserah kepada injil. Pengajarannya menjadi suatu bentuk kesaksian, dan kesaksian itu adalah karya Roh Kudus melalui orang percaya. Hanya orang Kristen, melalui kasih karunia Allah, yang dapat menjadikan orang lain menjadi Kristen. Seorang guru dalam mengajar, misalnya menggunakan sumber Alkitab, maka guru perlu memperantarainya kepada anak-anak sebagaimana makna Alkitab itu sendiri baginya secara pribadi. Bila dia memandang Alkitab sebagai sebuah catatan tentang sejarah kebudayaan, ia pun akan menyajikannya demikian kepada kepada anak-anak didiknya. Bila ia percaya bahwa Alkitab adalah Firman Allah yang diilhami secara harfiah, ia dengan segala ketulusannya akan mengajar demikian. Bila Alkitab dipandang olehnya sebagai catatan kegiatan Allah yang menebus di dalam sejarah, demikian jugalah anak-anak akan memahami Alkitab melalui dirinya. Orientasi kehidupan seorang guru dan praduga-praduga yang muncul daripadanya adalah unsur-unsur penting dalam pengajaran. Guru adalah pelaksana yang memperantarai Injil. Tugas ini tak dapat dicapai dengan paksaan, melainkan hanya dengan kasih.[11]

H.    KONTRIBUSI BAGI PENDIDIKAN MASA KINI
Horace Bushnell memberikan definisi pendidikan sebagai berikut: “PAK adalah pelayanan kegerejaan yang membimbing orangtua untuk memenuhi panggilannya sebagai orangtua Kristen, dan sekaligus memperlengkapi warga jemaat untuk hidup sebagai anggota persekutuan yang beribadah, bersaksi, mengajar, belajar dan melayani atas nama Yesus Kristus”. Tentu saja Bushnell memberikan definisi demikian karena ia adalah seorang yang menekankan PAK dalam keluarga yang menuntut tanggung jawab orangtua di dalam mendidik anak. Horace Bushnell menyebutkan orang tua, jemaat sendiri, pendeta dan anak-anak sebagai pengajar sedangkan pelajarnya yaitu kaum muda, orang tua dan warga jemaat. Kontribusi Horace Bushnell bagi pendidikan masa kini dapat terlihat dari hal tersebut, yakni:[12]
1.      Gereja melakukan pembimbingan kepada jemaatnya sebelum menikah, dan dipersiapkan untuk menjadi orangtua yang diharapkan mampu mengajar anak-anaknya kelak.
2.      Orangtua memiliki pemahaman yang lebih baik, dan memiliki kesadaran bahwa pendidikan dimulai dari keluarga masing-masing.
3.      Gereja melakukan pembimbingan kepada anak-anak, melalui persekutuan sekolah minggu.
4.      Gereja melakukan pembimbingan kepada remaja dan pemuda melalui persekutuan masing-masing, agar siap dari sisi mental dan iman untuk memasuki dunia dewasa.
5.      Memberikan pemahaman bahwa pendidikan merupakan proses regenerasi tugas dan tanggungjawab dari orang dewasa ke anak-anak yang dilakukan berkesinambungan.

BAB III
KESIMPULAN

Horace Bushnell adalah seorang pendeta, teolog, pengarang, pendidik, dan pemikir yang memiliki pandangan jauh ke depan, sehingga warisan pemikirannya masih relevan hingga sekarang. Kepekaan dan kepeduliannya terhadap masalah-masalah sosial membuktikan bahwa ia seorang yang berpandangan holistik yang tidak hanya memikirkan jemaatnya sebagai warga gereja, tetapi juga sebagai warga masyarakat. Rasa tanggung jawabnya terhadap perkembangan gereja di masa yang akan datang nampak dari keseriusannya memikirkan PAK yang ia tuangkan dalam buku Christian Nurture. Namun demikian, ia tidak hanya memikirkan pendidikan anak-anak, tetapi juga orang tua, dan warga jemaat. Dapat dikatakan Bushnell adalah seorang penganjur life-long learning. Buku Christian Nurture ditulis dengan sangat cermat dan sistematis dengan pembahasan yang sangat mendasar sehingga menjadi buku PAK yang paling berpengaruh pada abad ke-19 di Amerika. Bushnell sangat menyadari bahwa untuk membangun kehidupan jemaat yang kokoh, pendidikan di dalam keluarga harus mendapat perhatian yang sungguh-sungguh, karena itu orang tua harus mendapat bimbingan dan pelatihan yang memadai agar dapat menjadi pengajar yang handal bagi anak-anak mereka.



DAFTAR PUSTAKA

Boehlke R. Boehlke: Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen: Dari Yohanes Amos Comenius Sampai Perkembangan PAK di Indonesia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009)

Bushnel, Horace: Views Of Christian Nurture (Bedford: Applewood Books, Publishers of America`s Living Past, 1847)

Cully, Iris: Dinamika Pendidikan Kristen (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009)

Groome, Thomas H.:  Christian Religious Education: Pendidikan Agama Kristen, Berbagi Cerita & Visi Kita (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010)



[1] Horace Bushnel, Views Of Christian Nurture (Bedford: Applewood Books, Publishers of America`s Living Past, 1847) hal. 9-10.
[2] Robert R. Boehlke, Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen: Dari Yohanes Amos Comenius Sampai Perkembangan PAK di Indonesia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009) hal. 439-443.
[3] Thomas H. Groome, Christian Religious Education: Pendidikan Agama Kristen, Berbagi Cerita & Visi Kita (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010) hal. 170-171.
[4] Robert R. Boehlke, Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen: Dari Yohanes Amos Comenius Sampai Perkembangan PAK di Indonesia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009) hal. 442.
[5] Ibid, hal. 449-503.
[6] Ibid, hal. 466-475.
[7] Iris Cully, Dinamika Pendidikan Kristen (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009) hal. 100.
[8] Robert R. Boehlke, Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen: Dari Yohanes Amos Comenius Sampai Perkembangan PAK di Indonesia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009) hal. 475-483.
[9] Ibid, hal. 484-488.
[10] Ibid, hal. 488-498.
[11] Iris Cully, Dinamika Pendidikan Kristen (Jakarta: Gunung Mulia, 2009) hal. 100-101.
[12] Robert R. Boehlke, Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen: Dari Yohanes Amos Comenius Sampai Perkembangan PAK di Indonesia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009) hal. 501.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar